04 April 2010 | 55 comments | Sibaho Way

Lucu-Lucuan di Negeri Penuh Simbol

Add to Technorati FavoritesBanyak kejadian 'lucu' di tengah-tengah masyarakat kita. Ini masalah perbandingan antara bungkus dengan isi, simbol dengan substansi. Masyarakt kita yang relatif masih mengutamakan simbol-simbol, sering terjebak dalam lingkaran yang dibuat sendiri. Adakah kaitannya dengan tingkat pendidikan masyarakat kita yang masih rendah, sehingga lebih mengutamakan kemasannya daripada isi, pakaiannya daripada orang, deretan ijazah daripada kompetensi?

Coba lihat contoh kecil berikut,

Di komunitas suku saya, lebih merasa 'Batak' dengan nama bule daripada nama Indonesia namun dari daerah berbeda. Contoh: akan menjadi bahan lucu-lucuan jika anak saya, saya beri nama Wibisono Naibaho. Beda jika saya kasih nama Miroslav atau Andreas Naibaho (padahal lidah orang tua di kampung sana, Miroslav tuh dibaca Miroselap, Andreas dibaca Andareas, James dibaca Ja-mes :D ). Mereka mungkin lupa, dari casing saja lebih pantas bernama Gorga daripada George, atau lebih pantas bernama Ronggur daripada Robert.

Di komunitas agama saya, lebih merasa afdol jika memberi nama dengan nama-nama timur tengah yang membuat susah si nenek ketika memanggil nama cucunya. Alasannya, nama itu do'a, harus dibuat secanggih mungkin. Mereka mungkin lupa 2 hal, Pertama, Tuhan mengerti semua bahasa yang ada di seluruh jagat raya ini. Kedua, do'a tanpa tindakanlah yang membuat seseorang bernama full timur tengah menjadi tersangka korupsi.

Minggu kemarin saya menitip istri beberapa kaos MU original (made in Indonesia) untuk dijual ke teman-temannya. Ada temannya yang bertanya: original kok buatan Indonesia? Temannya itu mungkin lupa, justru bule-bule di luar sana sangat bangga menggunakan bahan pakaian dengan stempel made in Indonesia.
Hampir mirip dengan teman yang ditertawakan oleh pimpinannya (Orang Jepang) karena sepulang training dari Jepang membelikan oleh-oleh kemeja buat teman-teman dan keluarganya. Kata si bos, orang Jepang malah lebih gengsi memakai pakaian made in Indonesia. Gubrak !!

Salahkah semua itu? Tidak selalu. Sah-sah saja memberi nama super keren pada anak, benda, institusi, organisasi dan lain-lain, sepanjang tidak hanya melekat sebagai simbol semata.
Percuma mengaku abdi masyarakat namun kenyataannya malah menggerogoti pajak rakyat. Percuma mengaku partai wong cilik, tapi sesama keluarga saja ribut soal tahta dinasti. Percuma mengaku cinta sesama tapi masih curiga dengan pria bersorban atau masih mempersulit ijin pendirian rumah ibadah. Percuma mengaku The Jack, Viking atau Bonek tetapi kenyataannya malah memperburuk citra tim kesayangannya.

Yuk, jadi manusia Indonesia yang bermanfaat tanpa harus sibuk membungkus diri dengan stempel atau label impor.

Related Post



55comments:

Post a Comment

Berkomentar yang wajar ya kawan :)

Supporting Websites