16 May 2009 | 69 comments | Sibaho Way

Komentator yang tidak bisa bermain bola

Seorang Pelatih sepakbola harus pandai berstrategi. Meracik pemain, memainkan taktik, lobi ke atas, memotivasi di lapangan dan sebagainya. Targetnya tentu menang di setiap pertandingan. Supporter bangga, pemain senang, petinggi klub happy, kontrak pun naik.

Seorang Pemain harus bisa bermain baik tentunya. Meningkatkan skill, teamwork yang solid, kerja keras, motivasi tinggi, burning desire, mental juara, tapi tetap fair play. Targetnya membantu mencetak gol sebanyak-banyaknya ke gawang lawan di setiap pertandingan. Jadi idola, diincar banyak klub, jadi bintang iklan, tapi tetap down to earth.

Seorang Komentator harus pandai bicara walau belum tentu bisa membuat strategi dan taktik apalagi bermain bola. Kompetensi kuncinya memang harus pintar meracik kata-kata, memainkan logika, lobi ke media dan rajin membaca tabloid olahraga. Targetnya bisa memprediksi hasil akhir setiap pertandingan. Melatih insting, melatih muka tebal kala prediksi salah, tapi harus tetap tersenyum.

Sungguh memprihatinkan orang-orang yang berkarakter Komentator. Mereka seperti navigator yang belum tentu bisa mengemudi. Menebar logika seolah-olah paling tahu segalanya. Dan ketika ternyata salah, dengan muka tambeng hanya cengengesan sambil berkata: seperti saya katakan, semuanya bisa terjadi, itulah bola Bung, bundar!

Oke. Jangan ada lagi pembunuhan karakter ala Komentator itu. Apalagi sampai membawa-bawa unsur sara.
Ini sudah tahun 2009 Bung! Buang saja ke laut mitos-mitos Jawa-Non Jawa, mitos Orang Partai, mitos Sipil-TNI, mitos Agama, mitos Gender dan mitos-mitos lainnya. Jangan seret-seret rakyat ke pusaran itu lagi. Kami capek, tauk!!

Saya pun sangat tidak setuju ketika semalam SBY memperkenalkan Boediono dengan kata-kata 'Muslim yang....', huh! Norak menurut saya. Saya pun sangat jengkel ketika seorang petinggi partai membandingkan pola setiap pasangan capres cawapres dari sisi kesukuan. Saya sangat terbakar ketika banyak politisi gagal mengatakan Boediono itu neo liberal. Dan hari ini saya kesal dengan seseorang karena di status FB-nya ditulis Mega ber-ibu sumatera dan ibunya Prabowo boru Regar. Terakhir diralat karena ternyata Regar yang ini Regar dari Manado. Kasian deh..terlalu bersemangat sih!

Boediono itu hanyalah seorang Pemain dan dia hanya akan memainkan strategi dari seorang Pelatih berinisial SBY. Camkan itu wahai para Komentator!

Bahoomian, tulisan ini bukan kampanye dukungan untuk Capres SBY (lihat di paragraf 6 di atas). Mereka hanya sebagai analogi saja. Mengapa bukan yang lain? Ya karena mereka yang sedang hangat saat ini :D

Selamat Malam, Bahoomian!! Salam sibaho buat Anda sekeluarga di akhir pekan ini.

Related Post



69comments:

Post a Comment

Berkomentar yang wajar ya kawan :)

Supporting Websites