29 March 2009 | 27 comments | Sibaho Way

Bimbel, Apakah Komersialisasi Pendidikan?

Kemarin blogwalking dan terdampar di sebuah web bimbel (bimbingan belajar). Saya cukup terenyuh membaca sejarah awal pendiriannya. Menjadi guru private seorang siswa yang 'juara 1' dari belakang hingga bisa menjadi ranking 3. Metodenya terpadu dengan melibatkan orangtua si siswa. Keren!

Dari mulut ke mulut, siswa private-nya bertambah. Singkat cerita, sukses hingga bisa mendirikan sebuah lembaga bimbingan belajar. Dan mulai memasuki tahap yang membuat saya jadi tidak bersimpati: franchise. Ya, visinya sudah bisnis. Dan banyak bimbingan belajar seperti ini. Maksudnya, membisniskan pendidikan. Terlepas dari apa visi misi tertulisnya, franchise itu identik dengan usaha berorientasikan profit.

Saya tidak habis pikir. Mengapa seorang siswa (katanya) bisa menjadi lebih pintar ketika mengikuti bimbel daripada sekedar mengikuti kurikulum pelajaran di sekolah. Ada yang salah dengan sistem belajar mengajar di sekolah umum?
Oke, teknik belajar mengajarnya beda. Terus, mengapa teknik tersebut tidak diadopsi di sekolah-sekolah umum, mengapa hanya di bimbel adanya? Bukankah itu bukan sesuatu hal yang sulit? Bukankah para tenaga pengajar di bimbel itu juga banyak merupakan guru di sekolah umum? Berharap Pak Marsudiyanto dan Pak Sawali mampir memberi tanggapan :)

Cerita mengkomersilkan pendidikan tentu bukan cerita baru lagi. Permasalahan yang komplek dijadikan alasan. Mulai dari gaji tenaga pengajar yang rendah, subsidi yang minim belum dikurangi sunat menyunat, biaya operasional yang semakin tinggi, dan lain sebagainya. Para mahasiswa menjerit ketika dibebankan biaya macam-macam yang cenderung memberatkan. Pemerintah, boro-boro memberi solusi. Yang ada DPR mensahkan undang-undang badan hukum pendidikan. Undang-undang yang ditengarai bisa lebih memberikan keleluasaan bagi lembaga pendidikan untuk mandiri, tapi malah sangat rentan dengan komersialisasi. Semakin menangislah dunia pendidikan Indonesia. Semakin pesimis-lah anak-anak dari rakyat miskin Indonesia.

Pemerintah semestinya bisa melobi pihak swasta untuk membantu meningkatkan mutu pendidikan negara ini. Buat koneksi ala HSDPA yang kencang sehingga apa yang dibutuhkan pihak swasta bisa dipersiapkan di dunia pendidikan kita. Jadi tidak ada lagi orang mabuk latah ikut-ikutan bimbel hanya untuk sekedar masuk ke perguruan tinggi negeri idaman. Cara-cara instan seperti itu tidak membuat pondasi yang kokoh bagi SDM Indonesia. Hanya menghasilkan generasi karbitan ala pencarian bintang pop yang ramai di televisi.

Sedikit melebar, saya cukup salut dengan Djarum Black dengan programnya Blackinnovationawards goes to campus dan Autoblackthrough goes to campus. Semoga program mulia yang ingin memajukan dunia pendidikan itu tidak dianggap sebagai metode rokokisasi para intelektual muda.

Selamat Sore, Blogger! Selamat bekerja esok hari, sampaikan salam sibaho buat keluarga Anda.

Related Post



27comments:

Post a Comment

Berkomentar yang wajar ya kawan :)

Supporting Websites