02 June 2010 | 224 comments | Sibaho Way

Apakah kau menunggu emak sakit ?

Sejak Ayah berpulang 2 tahun lalu, emak tinggal ditemani dua orang adikku. Dua-duanya lelaki. Adikku yang perempuan ikut suaminya, sedang satunya lagi masih bersekolah di daerah yang berbeda.

Kadang aku iri dengan kedua adik lelakiku. Mereka bisa bersama emak sepanjang waktu, menghibur hatinya, membuatnya tertawa, menemaninya ke kebun, memakan masakannya setiap hari dan memeluknya ketika emak termangu mengingat almarhum ayah, lelaki yang sangat dihormatinya.

Sementara aku, hanya bisa mengajaknya berbicara lewat ponsel dari kejauhan. Mencoba membuatnya tertawa, mencoba membuat hidupnya tetap bergairah dengan celotehan bawel anak-anakku, membuatnya iri dengan menceritakan kalau ayah menemuiku dalam mimpi, hingga menyemangatinya ketika harga kelapa sawit anjlok.

Dan aku hanya bisa menangis saat berdo'a untuk keselamatan dan kesehatannya, memohon agar umurnya diberi keleluasaan, dan senantiasa tetap istiqomah. Paling sedikit setiap minggu aku rutin meneleponnya, memastikan tidak ada apa-apa yang mengkhawatirkan. Begitu terus hingga emak selalu bertanya, apa duit tidak sayang habis buat beli pulsa terus. Emak pasti tidak tahu kalau biaya telepon sekarang sudah murah.

Sabtu pagi, Aku menelepon emak lewat ponsel adikku. Tulalit. Kucoba berulang-ulang hasilnya selalu sama. Ponsel kedua adikku tidak bisa dihubungi. Aku pun mencoba menelepon adik-adikku yang perempuan. Tidak aktif. Mengapa bisa kebetulan begini? Tiba-tiba kok aku merasa, adik-adikku marah kepadaku. Tapi aku cepat-cepat membuang pikiran itu. Pikiran itu terbersit karena ketika aku mengingat kapan aku terakhir menghubungi mereka. Itu dua bulan yang lalu. Dan aku pun jadi ingat kalau adikku pernah beberapa kali menelepon pada saat aku sedang bekerja, dimana aku sedang dalam kondisi tidak bisa menerima telepon.

Pagi itu aku panik. Aku mencoba mencari informasi pada keluarga yang lain. Paman, tante, sepupu dan lain-lain. Semua mengatakan tidak ada perubahan nomor ponsel adikku. Malah aku menjadi malu ketika mereka bertanya kapan aku terakhir bicara dengan emak.
Entah mengapa hatiku tiba-tiba merasa khawatir. Sudah menjadi kebiasaan emak, kalau terjadi hal-hal seperti sakit, dia selalu meminta adikku untuk tidak memberitahuku.

Siang hari aku bisa menelepon adikku yang perempuan. Dari dia pula aku mendapatkan nomor baru ponsel adikku. Dia mengganti nomor dan tidak memberitahuku. Perasaanku kembali tidak enak.

Ketika kuhubungi, tersambung. Aku sedikit memarahi adikku karena tidak memberitahukan perubahan nomor ponselnya. Lalu aku puaskan berbicara dengan emak sambil menyeka airmata. Emak bercerita bagaimana dia selalu menyuruh adikku untuk meneleponku. Emak juga bercerita bagaimana dia mencoba meyakinkan adikku yang kesal, kemungkinan aku sibuk hingga tidak sempat menelepon. Ah, emak.... Airmataku tambah deras tanpa tangis. Dadaku sesak tapi hatiku bahagia.

Kemudian aku berbicara dengan adikku. Mengucapkan terimakasih karena sudah merawat emak dengan baik. Adikku cuma meminta agar aku tidak sampai lupa menelepon emak. Dia bahkan meminta, bisa tidak bulan ini pulang melihat emak. Aku membeberkan alasan pekerjaanku yang tidak bisa ditinggal saat ini.

Tidak lama setelah pembicaraan lewat telepon selesai, sebuah sms masuk di ponselku. Dari adikku. Isinya : Bang, emak itu sangat membanggakanmu. Apakah kau menunggu emak sakit baru datang melihatnya ke sini?

Aku terduduk. Ada bayangan wajah emak yang tersenyum menyambut kedatanganku.

-----ooOoo-----

Kisah sejati ini saya ikutkan untuk meramaikan kontes blog berbagi kisah sejati yang diadakan oleh anazkia dan disponsori oleh Denaihati.

Related Post



224comments:

Post a Comment

Berkomentar yang wajar ya kawan :)

Supporting Websites